COBAANBERTUBI-TUBI 2 Korintus 4:1-15 Tahun 1809, Bayi itu LAHIR NORMAL di Prancis. Pada umur 3 tahun terjadilah KECELAKAAN TRAGIS yg membuatnya BUTA. KEBUTAANNYA tak menghalangi dia MENGEMBANGKAN DIRI. COBAAN LAIN yg ia alami yg membuatnya SANGAT MENDERITA adalah sakit TBC. Jika Allah mencintai sebuah kaum maka Allah akan menguji mereka" (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 146) Kedelapan : Berhusnudzonlah kepada Allah, yakinlah bahwa dibalik ujian dan musibah yang menimpamu ada kebaikan dan hikmah. Justru jika ujian tersebut tidak datang dan jika musibah tersebut tidak menimpamu maka akan lebih Biasakanlahmemahami kebutuhan duniawi itu datang dan pergi, lalu Allah SWT yakinlah akan menggantinya. Katakanlah, 'Sesungguhnya kita ini milik Allah SWT dan kepada-Nyalah tempat kembali.' Hal itu tidak ada kaitannya dengan murka Allah SWT. Biasakan mencukupkan dirimu kepada Allah SWT dan kembalilah kepada-Nya." Vay Tiền Nhanh. Spirit Muslim. Sesungguhnya para nabi telah mendapat berbagai ujian dan cobaan yang telah mereka lewati dengan rasa sabar dan ikhlas semata mengharap ridha Allah Tingkat ujian dan cobaan para nabi cukup beragam, ada yang diuji dengan harta, ada pula yang diuji dengan keadaan keuarga, dan masih banyak lagi ujian para nabi yang lebih berat dan lebih dari apa yang kita bayangkan. Namun ujian dan cobaan tersebut nyatanya mampu mereka lewati semua dengan sabar, ikhlas, dan tawakkal sehingga menempatkan mereka menuju kedudukan yang tinggi dan mulia. Salah satu nabi yang dapat kita jadikan contoh atau teladan adalah kesabaran nabi Ayyub saat mendapat ujian dan cobaan secara bertubi-tubi. Nabi Ayyub sebelumnya merupakan sosok nabi yang dikaruniai Allah kenikmatan dunia, mulai dari harta melimpah, keluarga yang bahagia, hingga tubuh yang sehat. Hingga pada suatu ketika semua yang dimiliki nabi Ayyub berubah menjadi sebuah ujian dan cobaan yang harus beliau hadapi. beliau mendapatkan ujian dan cobaan secara bertubi-tubi, dimulai dari ujian harta kekayaannya hingga kondisi kesehatannya yang saat itu terserang sebuah penyakit. Namun semua cobaan itu tidak mampu menggoyahkan hati beliau untuk tetap beriman kepada Allah Berikut kami paparkan kisah kesabaran nabi Ayyub saat beliau mendapat ujian secara bertubi-tubi namun tetap ikhlas untuk mendapatkan ridho Allah 1. NABI AYYUB SEORANG DERMAWAN. Ayyub alaihis salam adalah seorang nabi yang mulia yang nasabnya sampai kepada Nabi Ibrahim alaihis salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَمِن ذُرِّيَتِهِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ Artinya “Dan kepada sebagian dari keturunannya Ibrahim Yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” Al-An’am 84. Nabi Ayyub merupakan salah satu nabi yang diberkahi oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang tak kurang satu apapun, mulai dari kekayaan harta yang melimpah, keluarga yang bahagia, hingga ternak yang cukup banyak. Namun keberadaan materi dunia tersebut tidak lantas membuatnya lalai terhadap urusannya kepada Allah harta yang dimilikinya digunakan untuk menebar kebaikan dijalan Allah seperti bersedekah hingga menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Namun kebaikan dan kedermawanan yang beliau tebarkan ternyata membuat syaitan memiliki niat buruk dengan mencoba untuk menggodanya dengan berbagai macam cara agar nabi Ayyub lupa atas kewajibannya kepada Allah 2. NABI AYYUB MULAI DIUJI. Melihat nabi Ayyub hidup tenang dengan segala kenikmatan yang dimilikinya serta kedekatannya kepada Allah yang tidak pernah renggang, membuat syaitan memiliki niat untuk menggoda nabi Ayyub. Syaitan pun memohon kepada Allah agar ia dapat menggoda nabi Ayyub dengan berbagai macam tipu dayanya. وَٱذْكُرْ عَبْدَنَآ أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلشَّيْطَٰنُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ Artinya "Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan". As-Shad 41. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa nabi Ayyub menjalani ujian ini selama 18 tahun, hadits ini diriwayatkan oleh Anas ibn Malik, sebagaimana disebutkan Abu Yala dan Abu Nuaim, mengisahkan إِنَّ نَبِيَّ اللهِ أَيُّوبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِثَ فِي بَلائِهِ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً فَرَفَضَهُ الْقَرِيبُ وَالْبَعِيدُ إلاَّ رَجُلَيْنِ مِنْ إِخْوَانِهِ كَانَا مِنْ أَخَصِّ إِخْوَانِهِ كَانَا يَغْدُوَانِ إِلَيْهِ وَيَرُوحَانِ Artinya “Sesungguhnya Nabiyullah Ayub alaihissalam berada dalam ujiannya selama delapan belas tahun. Baik keluarga dekat maupun keluarga jauh menolaknya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya. Kedua saudara itulah yang selalu memberinya makan dan menemuinya.” Ujian pertama yang harus dirasakan nabi Ayyub adalah kehilangan harta benda yang ia miliki. Sedikit demi sedikit harta benda yang ia miliki terkuras habis termasuk binatang ternak yang beliau miliki. Namun cobaan tersebut semakin membuat nabi Ayyub semakin dekat kepada Allah Nabi Ayyub sadar bahwa rezeki datangnya dari Allah maka akan kembali kepada Allah. Tidak selesai sampai disitu, ujian kembali menghampiri nabi Ayyub. Kali ini anak-anak nabi Ayyub banyak yang meninggal dunia. Namun keteguhan hatinya kepada Allah tidak menggoyahkan sedikitpun keimanannya kepada Allah Sebagian ada yang menyebutkan bahwa syaitan yang merobohkan rumah nabi Ayyub hingga menyebabkan putera-putera nabi Ayyub meninggal dunia. Melihat keteguhan nabi Ayyub tersebut, syaitan semakin berusaha menggoncangkan hati nabi Ayyub untuk berpaling dari Allah dalam keadaan demikian, ujian kembali datang kepada dirinya. Nabi Ayyub kini diuji dengan penyakit yang parah disekujur tubuhnya hingga membuat wajah nabi Ayyub terlihat tua. Sang istri senantiasa menjaga dan merawat nabi Ayyub hingga suatu ketika Istri nabi Ayyub pun diperdaya oleh syaitan sehingga berbuat sesuatu yang membuat nabi Ayyub kesal dan tidak berkenan. Nabi Ayyub lantas berjanji akan memukul istrinya sebanyak 100 kali dengan lidi pelepah kurma ketika beliau sembuh dari sakitnya itu. 3. NABI AYYUB LULUS DARI UJIAN ALLAH Tekanan ujian yang sedemikian dahsyat, nyatanya tidak mampu menggoyahkan keimanan nabi Ayyub. Bahkan ujian yang beliau terima, semakin membuat nabi Ayyub memiliki keteguhan iman yang semakin kuat kepada Allah Nabi Ayyub kemudian berdoa kepada Allah agar menghilangkan derita yang menimpanya, ia berkata, وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ Artinya “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.” Al-Anbiyaa’ 83. Hingga akhirnya dengan kasih sayang Allah nabi Ayyub diperintahkan Allah untuk menghentakkan kakinya ke tanah dan keluarlah sebuah mata air. Allah lantas memerintahkan nabi Ayyub untuk meminum dan mandi dengan air tersebut. Hal tersebut tertuang dalam firman Allah dalam Al-Qur’an surat As-Shaad ayat 42 ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ Artinya Allah berfirman "Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum". As-Shad 42. Dengan kuasa Allah penyakit yang beliau derita selama ini diangkat oleh Allah dan wajah nabi Ayyub kembali terlihat muda seperti sedia kala bahkan terlihat lebih berseri-seri. Harta kekayaan yang semula habis, Allah berikan kembali kepada nabi Ayyub. Beliau pun juga diberikan banyak keturunan anak laki-laki, salah satunya bernama Basyir yang diberi gelar Dzulkifli yang kelak akan menjadi nabi. وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِl Artinya "Dan Kami anugerahi dia dengan mengumpulkan kembali keluarganya dan Kami tambahkan kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran". As-Shad 43 Nabi Ayyub teringat janjinya akan memukul istrinya jika ia sudah sembuh dan Allah mengizinkan hal tersebut. Namun kasih sayang nabi Ayyub kepada istrinya tersebut membuat lidi yang sebanyak 100 itu tidak jadi dipukulkan satu persatu akan tetapi lidi tersebut dijadikan satu dan dipukulkan kepada istrinya hanya satu kali untuk meringankan rasa sakit tersebut. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an. وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَٱضْرِب بِّهِۦ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَٰهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ Artinya "Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput/lidi pelepah kurma, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia Ayyub seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhan-nya". As-Shad 44 DENPASAR - Ada anggapan Tuhan tidak berlaku adil terhadap umatnya. Ini biasanya diungkapkan oleh mereka yang mendapatkan musibah atau bencana. Faktor ini bisa melemahkan keyakinan keimanan kita terhadap Tuhan sehingga muncul opini Yang Maha Esa tidak ada perannya, dan tidak berlaku adil terhadap umatnya. Dalam ajaran agama Hindu khususnya karma phala, kita meyakini apa yang kita terima hari ini sesungguhnya konsekuensi daripada karma masa lampau. Namun karena ketidaksiapan yang disebabkan terlalu beratnya sebuah cobaan hidup membuat kita kadang kehilangan kendali dan pegangan. Berat sekali rasanya kehilangan sesuatu yang berhubungan dengan materi. Terlebih material adalah sesuatu yang sangat melekat betul dalam kehidupan manusia. Di sini harus ada sebuah terapi psikis. Selama ini kita dikendalikan oleh pikiran. Sekarang mulailah umum mengendalikan pikiran Anda sendiri. Tantangan, ujian, gangguan, hambatan, musibah, bencana, atau malapetaka adalah bagian dari proses materialisasi yang dialami sang roh saat memasuki badan ini. Ada penderitaan yang akan kita rasakan. Dipastikan juga kita akan mengalami dan tunduk pada hukum rwa bhineda. Yoga Sutra Pantanjali mengajari kita untuk melampaui pikiran. AYYUB adalah seorang nabi yang kaya raya. Istananya megah, rejekinya berkah melimpah, istri dan anak-anaknya sehat walafiat. Yang lebih penting lagi adalah, semua itu tetap menjadikan Ayyub seorang hamba Allah yang saleh. Ia tidak sedikitpun menunjukan bahwa semua yang ia miliki adalah kepunyaannya semata. Semua itu tidak sedikitpun membuatnya lalai. Ayyub tetap seorang yang selalu bersujud. Demikian juga istrinya yang bernama Rahmah. Atas ketaatan mereka berdua ini, para malaikat sampai kagum menyaksikan ketaatan Ayyub. Tapi lain halnya dengan iblis. Seperti biasa, ia tidak pernah bisa ridho melihat manusia yang taat kepada Allah swt. Atas dasar itulah, iblis kemudian mendatangi Sang Maha Pencipta. BACA JUGA Kisah Nabi Ayub Cambuk Istrinya 100 Kali “Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu,” katanya tandas kepada Allah SWT, “Ayyub berbakti kepada-Mu karena hartanya banyak, anak-anaknya sehat dan lucu-lucu. Kebunnya luas dan subur, istananya megah. Biri-biri serta dombanya berkembang biak terus menerus. Dia menyembah-Mu karena takut jatuh melarat!” Setelah keluh kesahnya itu, iblis pun turun menghancurkan segala milik Ayyub. Akibat ulah iblis itu, kebun-kebun milik Nabi yang melahirkan banyak nabi lagi itu menjadi kering kerontang dan terbakar. Semua ternaknya terserang wabah dan akhirnya mati semua. Setelah itu iblis mendatangi Ayyub. Ia menyamar sebagai orang tua yang bijaksana. “Ayyub, “ ujarnya, “Tuhan yang engkau sembah setiap har ternyata tidak bisa menolongmu sama sekali. Aku kasihan padamu. Carilah tuhan lain yang bisa menolongmu.” Mendengar semua itu, Ayyub meradang. Tapi ia tidak mempedulikannya. Malah, ia bertambah saleh dan semakin sering bersujud saja. Ayyub yakin, segala kenikmatan yang telah direguknya adalah pemberian Allah, dan Allah berhak mencabutnya sewaktu-waktu. Iblis marah dan kecewa. Kembali ia menghadap Allah SWT. Ia berujar dengan keras, “Ayyub masih taat kepadaMu karena ia masih punya anak-anak. Aku akan membinasakan seluruh anak Ayyub. Dan kau akan mengetahui bahwa iman Ayyub tidak seberapa kuatnya.” Seketika, Iblis dan anak buahnya segera menyebarkan penyakit dan bencana. Semua anak Ayyub mati. Bukan itu saja, istana tempat tinggal mereka kena gempa dan hancur menjadi puing-puing. Ayyub jelas menjadi sedih bukan kepalang. Tapi dari mulutnya hanya keluar ucapan tawakal dan pasrah diri saja. Dalam kondisi itu, datanglah orang tua yang sebenarnya adalah iblis,”Begitukah balasan Tuhan atas ketaatnan dan ibadahmu yang khusyuk dan tak pernah terputus? Tak ada hentinya engkau memuji-muji keagunganNya, tapi yang kau dapat hanya bencana dan bala belaka!” Ayyub melirik ke arah orang tua itu. Ia menjawab pelan, “Dialah yang memberi, Dia pula yang mengambil. Dia menghidupkan, dan dia juga yang mematikan.” Mendengar jawaban Ayyub, Iblis makin berang. Kembali dia menghadap Allah. “Ayyub masih taat kepadaMu karena dia masih sehat. Ayyub masih bisa bekerja dan masih bisa punya anak. Kalau dia sakit payah, lenyap tenaga dan kesehatannya, pasti dia akan berpaling dariMu.” Iblis turun lagi. Kali ini ia menularkan sejenis penyakit yang sangat berbahaya pada sekujur tubuh Ayyub. Baunya bukan main busuknya. Dari kulitnya bermunculan kudis dan bernanah. Dari kepala hingga ke kaki. Walau begitu, Ayyub tetap tabah. Ia tetap menjalankan iman dan ibadah kepada Allah SWT tanpa berkurang sedikitpun. Dia hanya menyerahkan nasibnya kepada Allah semata. Tidak seorang tabibpun yang mampu mengobatinya. Satu persatu barang-barangnya sudah hampir habis untuk biaya pengobatan. Semua istrinya telah minta cerai. Tinggallah Rahmah seorang yang masih bersabar merawat dan menemaninya. Rahmah dengan sabar mendampingi suaminya. Ia memeliharanya dengan baik. Dari hari kehari, teman-teman Ayyub menjauhinya satu persatu. Mereka takut ketularan penyakit yang menjijikan tersebut. Tidak pernah ada seorang pun yang bersedia menjenguknya karena bau tubuh Ayyub bisa membuat orang muntah. Setiap hari, Rahmah mencuci kulit Ayyub yang penuh dengan lintah dan koreng. Bau kulit Ayyub tidak terkira busuknya. Puncaknya, orang-orang kampung serempak mengusir Ayyub dan istrinya. Mereka berduyun-duyun mendatangi rumah Ayyub. Mereka akhirnya tinggal di sebuah gubuk kecil di tepi hutan. Tiap hari, Rahmah pergi keluar untuk menjual barang-barang mereka yang masih tersisa yang sekiranya masih bisa dijual. Sampai akhirnya habis. Dalam saat –saat kelaparan, Rahmah mencari pekerjaan. Akhirnya ia mendapat pekerjaan pada seorang tukang roti, namun ketika diketahui bahwa ia adalah istri Ayyub, serta merta dipecatlah ia. BACA JUGA Ditimpa Musibah, Nabi Ayub Justru Malu kepada Allah Alangkah bingungnya sekarang yang dipikirkan oleh Rahmah. Kemana lagi sekarang ia akan mencari sesuap rejeki untuk ia dan suaminya? Ketika ia mengadukan hal ini kepada Ayyub, suaminya itu dengan penuh kasih sayang, penuh kesabaran meyakinkannya. Dengan cobaan yang sedemikian berat, Ayyub tidak pernah sekalipun mengendorkan keyakinannya pada Sang Pencipta. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah SWT begitu mudah untuk membuat seseorang menjadi kaya atau sebaliknya menjadi miskin. Semiskin dan semenderita apapun tidak akan pernah mengubah Ayyub. Ia akan tetap menjadi hamba Allah yang selalu bersujud dan membaktikan hidupnya sepenuhnya untuk Allah SWT. Suatu saat, penderitaannya pasti akan berakhir. [] Sumber Peri Hidup Nabi & Para Sahabat/Penerbit Islampos Media/ karya Saad Saefullah

mengapa allah memberi cobaan bertubi tubi